jump to navigation

Jogja Tetaplah Istimewa November 29, 2010

Posted by rohmadyuliantoro in Uncategorized.
trackback

Belum selesai jogja dihantam dengan letusan merapi, kini jogja juga dihantam lagi dengan masalah keistimewaan jogja. Hal ini dimulai dengan belum disahkannya RUU tentang keistimewaan jogja. Semenjak disahkannya UU no 32 2004 tentang pemerintahan daerah, di pasal 2 ayat 8 disebutkan bahwa negara mengakui satuan daerah yang bersifat khusus atau istimewa yang diatur dengan undang-undang. Hal inilah yang menjadi tarik ulur karena jogja menginginkan jabatan gubernur dan wakil gubernur melekat pada kasultanan yogya dan pakualaman sebagai salah satu bentuk keistimewaan jogja, sementara pemerintah pusat menginginkan adanya pemilihan langsung. Pemerintah pusat menganggap bahwa penetapan sultan dan pakualaman sebagai gubernur dan wakilnya dianggap tidak demokratis, sedangkan pemilihan langsung lebih demokratis. Padahal pemilihan langsung sekarang ini justru banyak bermasalah, adanya money politic, kecurangan pemilu, kericuhan dimana-mana bahkan tidak sedikit yang menimbulkan pertumpahan darah. Bandingkan dengan jogja apakah ada kericuhan atau permasalahan dalam penetapan gubernur jogja, sama sekali nggak ada tuh. Bentuk keistimewaan jogja juga bukannya inkonstitusional tapi diatur oleh UU no 3 tahun 1950 sebagai bentuk pengakuan pemerintah pusat akan peran jogja pada masa kemerdekaan Indonesia yang tidak perlu saya ceritakan karena saking banyaknya. Saya sebagai masyarakat jogja merasakan kenyamanan tinggal jogja salah satunya karena adanya sosok sultan sebagai pengayom jogja. Saya jadi ingat dulu jaman reformasi jutaan orang berkumpul di alun-alun utara tanpa ada sedikitpun darah tertumpah itu salah satunya karena sosok sultan. Kalau memang ada beda persepsi tentang masalah keistimewaan jogja antara pemerintah pusat dengan pemerintah jogja, bikin aja jajak pendapat atau referendum tanyakan pada masyarakat jogja apakah mau penetapan atau pemilihan. Saya pernah baca pidato sultan HB IX ketika dinobatkan sebagai sultan di zaman kolonial (1940), Sultan mengatakan dalam pidato, ”Al ben ik Westers opgevoed, ik ben en blijf Javaan” (meski berpendidikan Barat, saya adalah orang Jawa dan akan tetap Jawa). Sama seperti sultan saya adalah orang Jawa dan akan tetap jawa, saya berharap pemerintah pusat tidak diskriminatif terhadap jogja, kalo Aceh mendapat keistimewaan dengan pembolehan penerapan syariat islam dan adanya parpol lokal, walikota DKI tidak dipilih langsung tapi melalui penunjukan, kenapa jogja dipersulit, apapun yang terjadi nanti bagi saya jogja tetaplah istimewa.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: